Kamis, 14 Juni 2018

Asap Is Not As Soon As Possible

Asap.

Apa yang terlintas di pikiran Anda saat mendengar kata "Asap"?

Apakah teringat asap polusi kendaraan?

Atau asap pabrik?

Asap rokok?

Asap pemanggangan sate?

Atau asap pembakaran sampah?

Di antara asap-asap tersebut, mana yang paling Anda suka?

Atau, mana di antara asap tersebut yang Anda rela baju Anda jadi tercium seperti asap tersebut?

Cukup jawab dalam hati saja.

Asap.

Ada peribahasa yang mengatakan "tidak ada asap kalau tak ada api".

Itu maksudnya "sesuatu yang terjadi pasti ada penyebabnya".

Asap.

Di kehidupan ini, ia banyak ditemukan.

Dengan beragam macam rupa.

Karena sangat familiar, sampai-sampai ada konferensinya di Bandung, Jawa Barat.

KONFERENSI ASEP ASEP

Selasa, 12 Juni 2018

Chicken Village

Pagi ini, aku melihat sekelompok chicken, satu induk betina bersama sekian jumlah anak-anaknya.

Entah mengapa mereka begitu menarik perhatianku.

Mungkin karena mereka bergerombol dan sang induk yang (dengan sabar) membimbing mereka (menuju jalan yang benar).

Biasanya yang aku tahu kalau seperti itu mereka sedang mencari makan.

Mungkin pula itu yang disebut dengan semangat mengais rezeki.

Mungkin [di sini ku berasumsi kembali] ada di antara para pembaca yang merasa tidak menyukai chicken (hidup). Mengingat kebiasaan mereka yang suka mematuk sembarangan. Itu semua terjadi karena mereka tidak disekolahkan alias tidak diberi pendidikan yang layak. Jadi sedih.

Semoga chicken walaupun tinggal di village tapi tidak village-an ya.

Qerja Lembur Bagai Qudha

Akhir-akhir ini lagi viral iklan Ramayana.

Ituloh yang ada emak-emak di magicom.

Terus ada lirik "Qerja lembur bagai qudha".

Sengaja pakai 'Q' soalnya itu yang nyanyi ibu-ibu qasidah pakai qalqalah.

Tapi kalian bertanya-tanya nggak sih, kenapa harus "kerja lembur bagai kuda"?

Usut punya usut, setelah saya mencari tahu lewat search engine go*gle mengenai arti kuda.

Kuda digambarkan sebagai hewan yang kuat, tangkas, dan lincah.

Mungkin maksud 'kerja lembur bagai kuda' di jingle ini yaitu kerja yang seperti kuda: kuat sampai bela-belain untuk lembur.

Sabtu, 02 Juni 2018

Journey To Cileles

Selama berkuliah di Jatinangor, rasa-rasanya baru di tahun kedua ini saya menyusuri Cileles, sebuah desa di Jatinangor. Biasanya paling mentok-mentok sampai Cikuda doang.

Ada hal-hal yang membuat saya takjub dari penyusuran tersebut.

Pertama, jalanannya menanjak.
Bagi saya jalanan menanjak itu sesuatu yang istimewa. Sepertinya setiap saya melihat jalanan yang menanjak lumayan tajam selalu terpana. Entah mengapa. Anyone knows?
Saya jadi memikirkan bagaimana letihnya bagi mereka yang menyusuri jalan tersebut dengan jalan kaki. Sedikit informasi waktu itu saya sedang naik motor dibonceng oleh rekan saya jadi kaki saya masih baik-baik saja.

Kedua, lampu-lampu bangunan yang bercahaya.
Karena waktu itu sedang malam hari jadi saya senang melihat lampu-lampu rumah warga yang memancarkan cahaya. Seperti pada alasan pertama, rasanya saya senang melihat lampu-lampu bangunan yang bersinar di malam hari di manapun tempatnya.

Ketiga, sebuah rumah sederhana.
Pada saat itu kami berdua sedang ada "misi" yang mengharuskan kami ke sebuah rumah yang ada di sana. Lagi dan lagi, saya takjub pada hal yang sederhana. Seperti rumah itu. Sederhana dengan ciri khas rumah tempo doeloe. Jadi mengingatkan saya pada rumah di kampung. Tapi rumah yang mana ya? Ah, yang penting saya tidak bertanya kampung yang mana.

Tentang seseorang yang tak lagi kutahu kabarnya

  Ada satu nama yang dulu begitu akrab di hari-hariku. Kini, namanya hanya muncul sesekali — dalam hening, dalam ingatan yang samar. Aku tid...