Sabtu, 02 Juni 2018

Journey To Cileles

Selama berkuliah di Jatinangor, rasa-rasanya baru di tahun kedua ini saya menyusuri Cileles, sebuah desa di Jatinangor. Biasanya paling mentok-mentok sampai Cikuda doang.

Ada hal-hal yang membuat saya takjub dari penyusuran tersebut.

Pertama, jalanannya menanjak.
Bagi saya jalanan menanjak itu sesuatu yang istimewa. Sepertinya setiap saya melihat jalanan yang menanjak lumayan tajam selalu terpana. Entah mengapa. Anyone knows?
Saya jadi memikirkan bagaimana letihnya bagi mereka yang menyusuri jalan tersebut dengan jalan kaki. Sedikit informasi waktu itu saya sedang naik motor dibonceng oleh rekan saya jadi kaki saya masih baik-baik saja.

Kedua, lampu-lampu bangunan yang bercahaya.
Karena waktu itu sedang malam hari jadi saya senang melihat lampu-lampu rumah warga yang memancarkan cahaya. Seperti pada alasan pertama, rasanya saya senang melihat lampu-lampu bangunan yang bersinar di malam hari di manapun tempatnya.

Ketiga, sebuah rumah sederhana.
Pada saat itu kami berdua sedang ada "misi" yang mengharuskan kami ke sebuah rumah yang ada di sana. Lagi dan lagi, saya takjub pada hal yang sederhana. Seperti rumah itu. Sederhana dengan ciri khas rumah tempo doeloe. Jadi mengingatkan saya pada rumah di kampung. Tapi rumah yang mana ya? Ah, yang penting saya tidak bertanya kampung yang mana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang seseorang yang tak lagi kutahu kabarnya

  Ada satu nama yang dulu begitu akrab di hari-hariku. Kini, namanya hanya muncul sesekali — dalam hening, dalam ingatan yang samar. Aku tid...