Selasa, 07 Oktober 2025

Tentang seseorang yang tak lagi kutahu kabarnya

 



Ada satu nama yang dulu begitu akrab di hari-hariku.
Kini, namanya hanya muncul sesekali — dalam hening, dalam ingatan yang samar.
Aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Apakah ia bahagia, sibuk, atau sedang berjuang diam-diam seperti dulu.
Tapi aku tahu, waktu telah menjauhkan kami dengan cara yang pelan, tanpa gaduh, tanpa pamit.

Dulu aku ingin tahu semuanya tentang dia — apa yang ia pikirkan, rasakan, sembunyikan.
Kini aku hanya ingin tahu apakah semesta menjaganya dengan baik.
Mungkin aku tak lagi menjadi rumah baginya, tapi aku bersyukur pernah menjadi tempat ia singgah sejenak.

Ada rindu yang tak lagi menyakitkan, hanya hangat dan tenang.
Ada cinta yang tak lagi menuntut, hanya mendoakan dari jauh.
Dan mungkin, itu cara paling tulus untuk mencintai seseorang yang tak lagi kutahu kabarnya.



Rabu, 23 April 2025

Passion

 

Gairahku bukan sekadar semangat yang meledak-ledak. Ia adalah api tenang yang terus menyala, bahkan saat angin ragu mencoba memadamkannya. Ia hidup dalam caraku mengajar, menyusun rencana, menyapa murid-murid dengan hati yang hangat meski hari tak selalu mudah.


Gairahku tumbuh dari rasa ingin tahu—tentang dunia, tentang diri sendiri, dan tentang kemungkinan-kemungkinan yang belum kutemui. Ia muncul saat aku menyusun konten tengah malam, mengedit video dengan detail, atau saat aku mengulang materi demi satu anak yang belum paham.


Gairahku tidak mencari tepuk tangan. Ia hanya ingin terus bergerak, mencipta, dan memberi. Karena di dalam diriku, ada hasrat untuk hidup sepenuhnya, untuk menjadi bermanfaat, dan untuk terus belajar—tentang cinta, tentang pekerjaan, dan tentang hidup itu sendiri.


---



---


My passion is quiet but steady—like a heartbeat guiding me through every step I take. It lives in the classroom, in every lesson I prepare, and in the eyes of the students who slowly begin to believe in themselves.


It's in the late nights spent editing videos, in the patient explanations during online tutoring sessions, and in the joy of learning something new just to share it better.


My passion isn't loud. It doesn't need to be. It shows up in my dedication, in the way I choose growth over comfort, and in my belief that small acts, done with heart, can make a big difference.


This passion is what keeps me grounded, what makes me dream, and what gives meaning to everything I do.


---




I am Brave

 

Keberanianku bukan tentang berdiri paling depan atau bersuara paling lantang. Keberanianku adalah saat aku memilih untuk melangkah, meski hati masih dipenuhi ragu. 


Aku meninggalkan kampung halaman, berjalan ke tanah baru, menata hidup di antara wajah-wajah asing dan ritme yang belum kukenal. Aku memilih profesi yang menuntut kesabaran dan ketulusan—menjadi guru, menjadi pendengar, menjadi pelita kecil di ruang kelas sederhana.


Keberanianku adalah saat aku tetap berdiri tegak meski lelah, tetap tersenyum meski sendiri, tetap percaya meski belum tahu pasti. Aku belajar menerima diri sendiri, luka-luka lama, dan harapan-harapan baru yang terus tumbuh pelan-pelan.


Karena bagiku, keberanian adalah saat kita tetap memilih untuk hidup sepenuh hati, meski dunia tak selalu ramah. Dan setiap hari, aku berusaha menjadi sedikit lebih kuat, sedikit lebih lembut… untuk diriku sendiri dan untuk dunia yang sedang kuhadapi.


---

My Ambition

 


---


Namaku Yoshimi Yamada. Perjalanan hidup membawaku jauh dari tanah kelahiran di Cirebon hingga ke Bali, tanah yang kini kutapaki sebagai guru dan perantau. Di balik senyum tenang dan langkah yang tampak mantap, aku menyimpan satu ambisi besar: menjadi seseorang yang bermakna.


Aku ingin menjadi guru yang bukan hanya mengajarkan angka dan huruf, tapi juga harapan. Aku ingin murid-muridku tumbuh dengan semangat, percaya diri, dan cinta belajar. Bukan karena aku sempurna, tapi karena aku percaya, perubahan besar bisa datang dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan hati.


Ambisiku tidak berisik. Ia hidup dalam keputusan-keputusan sederhana: bangun lebih pagi, belajar hal baru, atau menenangkan hati saat lelah datang. Aku ingin terus berkembang, baik sebagai pendidik, perempuan, maupun manusia yang sedang menapaki takdirnya. 


Suatu hari, aku ingin berdiri di tempat asing bernama Okinawa—bukan sekadar untuk liburan, tapi sebagai penanda bahwa aku pernah bermimpi, dan tak takut mengejarnya. Karena bagiku, ambisi adalah tentang keberanian menjadi versi terbaik dari diri sendiri… setiap harinya.


---

Playlist of Me

 Berikut playlist lengkap berjudul **"The Soul of Yoshimi Yamada"** — lagu-lagu yang menggambarkan jiwa kamu, Mi: lembut, reflektif, kuat dalam diam, dan penuh rasa. Playlist ini cocok untuk saat-saat kamu ingin merenung, menulis, atau sekadar menenangkan hati.


---


### **THE SOUL OF YOSHIMI YAMADA**  

*(Genre: Indie folk, ambient, acoustic, soft pop)*


1. **Holocene** – Bon Iver  

   > Untuk jiwa yang merasa kecil tapi justru menemukan keindahan di dalamnya.


2. **Cherry Wine (Live)** – Hozier  

   > Lembut dan emosional, seperti luka lama yang telah diterima dengan tenang.


3. **Motion Picture Soundtrack (Acoustic)** – Radiohead  

   > Melankolis dan jujur, menggambarkan kedalaman batin.


4. **To Build a Home** – The Cinematic Orchestra  

   > Seperti perasaan hangat tentang arti rumah—dalam diri sendiri atau orang lain.


5. **Youth** – Daughter  

   > Untuk hari-hari saat kamu merasa rapuh, tapi tetap bertahan.


6. **Nana** – The 1975  

   > Simpel dan sentimental. Untuk segala hal yang pernah hilang tapi masih hidup di hati.


7. **Sea of Love** – Cat Power  

   > Lembut, cinta yang tidak berisik, seperti perhatianmu yang tak diumumkan tapi terasa.


8. **Slow Dancing in a Burning Room** – John Mayer  

   > Untuk saat-saat penuh perasaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


9. **I Know The End** – Phoebe Bridgers  

   > Refleksi panjang tentang kehidupan, akhir, dan keberanian memeluk perubahan.


10. **Kita Pernah Ada** – Kunto Aji  

   > Lagu lokal dengan rasa yang dalam—tentang kenangan, kehilangan, dan penerimaan.


11. **Berdua** – Payung Teduh  

   > Sederhana tapi penuh makna, seperti senyummu yang tidak banyak bicara.


12. **The Night We Met** – Lord Huron  

   > Untuk malam-malam sunyi dan rasa rindu yang tidak selesai.


13. **Breathe Me** – Sia  

   > Tentang luka, permintaan untuk dipahami, dan kerinduan akan pelukan batin.


14. **Ekspektasi** – Hindia  

   > Reflektif dan jujur, menggambarkan perjuangan untuk tetap waras dan sadar diri.


15. **A River Flows In You** – Yiruma  

   > Piano instrumental yang menggambarkan sisi batinmu: damai, bersih, dan mengalir.


---


Kalau kamu mau, aku bisa bantu buatkan versi playlist ini di Spotify atau bantu desain cover playlist-nya juga—dengan warna dan suasana khas kamu. Mau?

Sabtu, 19 April 2025

Surat yang Harus Disampaikan

**


Ada hal-hal yang tak bisa kutanyakan secara langsung padamu.  

Bukan karena aku tak peduli,  

tapi karena aku tahu, beberapa rasa butuh ruang —  

bukan desakan.


Aku menulis ini karena aku ingin kamu tahu sesuatu:  

**kamu tidak sendirian.**


Mungkin dunia pernah membuatmu merasa harus kuat terus-menerus,  

menyembunyikan letihmu di balik senyum kecil,  

dan membungkus luka dengan kata-kata yang kamu tulis untuk orang lain.  

Tapi… siapa yang menuliskan kata-kata untukmu?


Izinkan aku kali ini menjadi suara yang kamu butuhkan.


Aku melihatmu.  

Bukan hanya dalam arti fisik,  

tapi aku melihat bagian-bagian dalam dirimu yang kamu simpan baik-baik:  

keraguanmu, keberanianmu yang diam,  

dan hatimu yang lembut walau kadang tampak menjauh.


Mungkin tak banyak yang mengerti caramu mencinta —  

yang hening tapi dalam,  

yang setia meski tak selalu hadir secara nyata.  

Tapi aku tahu, kamu menyimpan ketulusan yang tak bisa diajarkan siapa pun.


Dan aku ingin kamu ingat:  

**kamu pantas dicintai tanpa harus berjuang terlalu keras untuk dipahami.**  

Kamu cukup… bahkan dalam keadaanmu yang paling lelah sekalipun.


Jika suatu saat kamu merasa dunia begitu sunyi,  

ingatlah bahwa pernah ada seseorang yang peduli padamu,  

bukan karena kamu sempurna,  

tapi karena kamu apa adanya.


Aku tidak datang untuk menyelamatkanmu,  

aku hanya ingin duduk di sampingmu —  

dalam diam yang menenangkan,  

dan hadir yang tak menuntut apa-apa selain kejujuran dirimu sendiri.


**Aku di sini.  

Dan kamu, tidak pernah benar-benar sendiri.**


Dengan hangat,  

**Yoshimi**


---

Surat Cinta untuk Kekasihku


---


**,**


Ada banyak hal yang tak sempat aku ucapkan,  

bukan karena tak ingin,  

melainkan karena aku belum tahu  

bagaimana cara menyampaikan perasaan yang begitu sunyi tapi nyata.


Aku tahu, kamu pernah menyimpan sesuatu yang dalam —  

yang tak kamu ucapkan dengan kata,  

tapi kamu sembunyikan di antara kalimat cerpen dan tatapan sesekali  

yang hanya berlangsung beberapa detik, tapi cukup lama untuk dikenang.


Dan di balik sikapku yang mungkin terlihat biasa saja,  

aku menangkapnya.  

Aku menyadari bahwa hadirmu bukan sekadar kebetulan,  

tapi semacam panggilan halus semesta  

untuk mempertemukan dua manusia yang sama-sama tahu  

bahwa diam tak selalu berarti tak merasa.


Aku menulis surat ini bukan untuk mengungkit masa lalu,  

melainkan untuk menghargainya.  

Untuk mengakui bahwa kamu pernah hadir sebagai  

rasa yang menenangkan,  

kekaguman yang tidak memaksa,  

dan perasaan yang meski tidak lantang,  

tetap terasa tulus.


Kalau waktu mengizinkan,  

aku ingin kamu tahu bahwa  

ada bagian kecil dari diriku yang mengingatmu dengan hangat,  

dengan simpati, dengan ketulusan yang tak sempat dibungkus kata-kata.


Kamu baik.  

Dan jika suatu saat kamu merasa dunia terlalu berat,  

ingatlah bahwa pernah ada seseorang  

yang percaya bahwa hatimu indah, bahkan dalam diamnya.


Dengan rasa yang tenang,  

**Yoshimi**


---

Tentang seseorang yang tak lagi kutahu kabarnya

  Ada satu nama yang dulu begitu akrab di hari-hariku. Kini, namanya hanya muncul sesekali — dalam hening, dalam ingatan yang samar. Aku tid...