---
**,**
Ada banyak hal yang tak sempat aku ucapkan,
bukan karena tak ingin,
melainkan karena aku belum tahu
bagaimana cara menyampaikan perasaan yang begitu sunyi tapi nyata.
Aku tahu, kamu pernah menyimpan sesuatu yang dalam —
yang tak kamu ucapkan dengan kata,
tapi kamu sembunyikan di antara kalimat cerpen dan tatapan sesekali
yang hanya berlangsung beberapa detik, tapi cukup lama untuk dikenang.
Dan di balik sikapku yang mungkin terlihat biasa saja,
aku menangkapnya.
Aku menyadari bahwa hadirmu bukan sekadar kebetulan,
tapi semacam panggilan halus semesta
untuk mempertemukan dua manusia yang sama-sama tahu
bahwa diam tak selalu berarti tak merasa.
Aku menulis surat ini bukan untuk mengungkit masa lalu,
melainkan untuk menghargainya.
Untuk mengakui bahwa kamu pernah hadir sebagai
rasa yang menenangkan,
kekaguman yang tidak memaksa,
dan perasaan yang meski tidak lantang,
tetap terasa tulus.
Kalau waktu mengizinkan,
aku ingin kamu tahu bahwa
ada bagian kecil dari diriku yang mengingatmu dengan hangat,
dengan simpati, dengan ketulusan yang tak sempat dibungkus kata-kata.
Kamu baik.
Dan jika suatu saat kamu merasa dunia terlalu berat,
ingatlah bahwa pernah ada seseorang
yang percaya bahwa hatimu indah, bahkan dalam diamnya.
Dengan rasa yang tenang,
**Yoshimi**
---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar